Tag: #adatbudaya

  • Menjaga Bara Kearifan Leluhur: PDA Kutai Barat Perkuat Peran Lembaga Adat di Tengah Arus Globalisasi

    JURNALIKN.COM, SENDAWAR – Usai dikukuhkan oleh Bupati Kutai Barat (Kubar) Frederick Edwin, Presidium Dewan Adat (PDA) Kutai Barat periode 2025–2030 langsung menyalakan semangat baru dalam menjaga bara kearifan leluhur yang menjadi jantung kehidupan masyarakat adat di Bumi Tanaa Purai Ngeriman.

    Ketua PDA Kutai Barat, Yurang, menegaskan bahwa langkah awal yang akan diambil pihaknya adalah konsolidasi internal di seluruh tingkatan lembaga adat. Upaya ini bukan sekadar penataan struktur, melainkan bagian dari perjalanan panjang untuk menghidupkan kembali roh adat di setiap kampung, dusun, dan lembah yang menjadi saksi warisan nenek moyang.

    “Langkah pertama kami adalah memastikan seluruh struktur lembaga adat, mulai dari kabupaten hingga kampung, benar-benar hidup dan berfungsi. Kami ingin lembaga adat menjadi tempat berteduh bagi masyarakat, tempat di mana nilai-nilai luhur, hukum adat, serta tradisi leluhur dijaga dan diwariskan. Lembaga ini bukan hanya simbol, tetapi rumah besar bagi semua anak adat Kutai Barat,” ujar Yurang, Rabu (29/10/2025).

    Selain konsolidasi, PDA Kutai Barat juga menempatkan pendataan dan penguatan kelembagaan adat di tiap kampung sebagai program prioritas. Pembinaan terhadap kepala adat dan perangkatnya akan digencarkan agar mereka lebih memahami peran serta tanggung jawab dalam menjaga keharmonisan adat, alam, dan kehidupan bermasyarakat.

    Yurang mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menyusun rencana kerja strategis lima tahun ke depan yang berpihak pada pelestarian nilai-nilai adat Dayak dan etnis lainnya yang hidup berdampingan dengan damai di Kutai Barat.

    “Kami ingin setiap kegiatan adat terencana dengan baik, bukan hanya sekadar seremonial, tetapi membawa dampak sosial dan budaya yang nyata bagi masyarakat,” tambahnya.

    Ia juga mengajak seluruh komponen masyarakat adat, tokoh kampung, dan generasi muda untuk bergandengan tangan memperkuat kembali nilai-nilai kearifan lokal, yang kini mulai tergerus derasnya arus modernisasi dan perubahan zaman.

    Dengan semangat gotong royong, jiwa leluhur, dan roh kebersamaan yang diwariskan turun-temurun, PDA Kutai Barat bertekad menjadikan lembaga adat sebagai pilar utama pelestarian jati diri daerah, agar langkah masyarakat Kutai Barat di masa depan tetap berpijak kokoh pada akar nilai-nilai luhur warisan nenek moyang.

    Reporter: Noor.

  • Gemeoh: Merawat Warisan Leluhur, Menyatukan Bumi Tanaa Purai Ngerimaan

    JURNAL IKN.COM, SENDAWAR – Dalam semangat melestarikan warisan budaya leluhur dan mempererat persatuan masyarakat, Festival Melayu Gemeoh kembali hadir di Kecamatan Melak, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), pada tahun 2025. Festival yang telah memasuki tahun ketiga ini bukan hanya sekadar ajang hiburan, namun menjadi panggung terbuka bagi tradisi, seni, dan jati diri masyarakat Kutai yang sarat nilai.

    Ketua Panitia Festival, Sadli, yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Kutai Barat, menyampaikan bahwa festival ini dijadwalkan berlangsung pada Oktober atau November mendatang, menyesuaikan dengan pencairan anggaran APBD Perubahan 2025.

    “Kalau anggaran perubahan bisa cair di akhir bulan ini atau awal bulan depan, maka festival bisa kita laksanakan di pertengahan Oktober. Tapi kalau pencairannya agak lambat, kemungkinan baru bisa di bulan November,” ujar Sadli, Sabtu (20/9/2025).

    Festival Melayu Gemeoh bukan sekadar pertunjukan, tetapi ruang ekspresi budaya yang hidup. Dalam festival ini, masyarakat akan menyaksikan kirab budaya, lomba kesenian tradisional, serta olahraga lokal seperti balap ketinting dan perahu naga, sebuah simbol kejayaan maritim masa lampau masyarakat pesisir Kutai.

    Salah satu ciri khas yang paling dinanti adalah “makan bekerobok” (Bahasa Kutai-Red), yang artinya, tradisi makan bersama dalam satu tampah yang mencerminkan semangat kebersamaan dan egalitarianism (filsafat yang menekankan kesetaraan hak, kesempatan, dan status sosial bagi semua individu, tanpa memandang perbedaan latar belakang seperti ras, gender, ekonomi, atau keyakinan), suku Melayu Kutai. Masyarakat duduk bersila, menyantap hidangan lokal, dan berbagi cerita dalam suasana kekeluargaan. Tradisi ini tak hanya menyatukan, tapi juga memperkuat akar identitas sosial masyarakat Kutai Barat.

    “Kegiatan ini terbuka untuk semua, tanpa memandang latar belakang. Inilah wajah inklusif dari budaya kita, yang selalu menyambut siapa pun dengan tangan terbuka,” tambah Sadli.

    Festival ini telah masuk dalam Calendar of Event (CoE) Kutai Barat 2025, dan terus berkembang menjadi salah satu agenda kebudayaan terbesar di wilayah Buni Tanaa Purai Ngerimaan. Sadli berharap ke depan, festival ini dapat lebih dikenal di tingkat regional bahkan nasional sebagai contoh pelestarian tradisi di tengah kemajuan zaman.

    “Tradisi bukan untuk dikenang, tapi untuk dihidupkan kembali dalam kehidupan sehari-hari. Festival ini adalah napas budaya kita yang mesti terus dijaga agar tak lekang oleh waktu,” tutup Sadli.

    Penulis: Johansyah.